Sepenggal Kisah Pembinaan Bersama Anak Juara Aceh

Tepat pukul 3 sore, dua orang berseragam orange tiba di Mesjid Abu Indrapuri, kecamatan Indrapuri, Aceh Besar. Dua orang tersebut adalah amil Rumah Zakat (RZ) Aceh. Mereka datang dari kota Banda Aceh ke Aceh Besar, tepatnya di kecamatan Indrapuri yang berjarak lebih kurang 50 km dari kota Banda Aceh.

Mereka datang jauh-jauh dari Banda Aceh untuk berjumpa anak-anak Juara. Memberikan motivasi, pembinaan, diskusi, atau apa saja yang bisa dibagikan di sana. Tidak hanya Anak Juara yang hadir, wali-wali dari mereka juga ikut datang.

Berselang beberapa menit kemudian, anak-anak Juara dan wali mulai bermunculan. Hingga ramai memenuhi perkarangan mesjid yang banyak dihiasi pohon-pohon rimbun di sekitarnya.

Untuk lebih nyaman dan santai, dua pemuda amil RZ Aceh itu memilih tempat sharing happines-nya di atas rumput dan di bawah pohon rimbun sekitaran mesjid. Menyatu dengan alam; itulah konsep yang diusung mereka sore itu.

Pembukaan pertama oleh Muahrrahman, selaku Project Koordinator RZ yang menyampaikan segala hal tentang beasiswa, pembinaan, dan apapun yang menyangkut tentang teknis internal di RZ. Setelah penyampaianya, maka sesi tanya jawab diberikan. Ada satu-dua dari wali yang bertanya tentang beasiswa, kursus, dan hal remeh-temeh lainya yang dirasa perlu untuk mereka dan anak-anak mereka yang dibina RZ Aceh.

Selanjutnya penyampai materi oleh Ricky Syahrani, salah satu tutor RZ Aceh. Dia kali ini mengusungkan tema Belajar Dari Alam. Ada hal yang menarik dari pembahasan tersebut, karena penyampaian materi tentang alam maka sangat cocok bila tempat yang dipilih mereka di sekitaran pohon-pohon rimbun, duduk lesehan di atas rumput—menyatu dengan alam.

Suara bising mobil, motor, dan kendaraan lain yang berlalu-lalang tak menyurutkan semangat mereka dalam menyampaikan kebaikan. Adalah Ricky, begitu panggilannya. Seperti yang disebutkan tadi, dia menyampaikan bahwa belajar itu mudah.

“Belajar itu tidak mesti dari guru, dari buku. Tetapi juga bisa dari alam.” Pungkasnya disela-sela pemberian materi.

Ia melanjutkan, “coba adek-adek lihat di sekitaran kita sekarang.” Ia diam sejenak, membiarkan Anak-anak Juara Aceh melihat di sekitaran mereka.

“Ada apa saja?” tanyanya. “ Ada pohon-pohon bukan?” Anak-anak Juara Aceh, pun para Wali mengangguk.

“Nah, adek-adek, kita bisa belajar dari pohon-pohon di sekitar kita ini. Contohnya pohon di belakang ini,” Ricky menunjuk salah satu pohon besar di belakangnya.

“Lihatlah betapa besar dia. Semakin besar pohon ini, maka semakin besar pula angin yang menerpanya. Begitu juga kita, semakin besar kita, semakin dewasa kita, maka semakin besar dan banyak pula masalah yang akan menimpa kita.” Ricky diam sejenak, menyapu pandangan ke semua yang hadir di tempat tersebut.

Tidak hanya tentang pohon yang dipaparkan pemuda berkacamata itu. Tetapi dia juga memberikan contoh bahwa belajar juga bisa dari anak alam yang lain, yaitu matahari.

Dia mengatakan, matahari sama persis seperti manusia, Allah menciptakannya bukan tanpa alasan. Pasti ada hal bermanfaat yang bisa kita petik darinya. Matahari selain bermanfaat untuk menyinari bumi, ada hal tersembunyi yang jarang sekali diketahui manusia sekarang ini.

Matahari pagi misalnya, ia pasti disukai banyak orang. Ketika pagi tiba, maka banyak orang-orang keluar rumah untuk menikmati matahari pagi, lari-lari pagi. Banyak orang suka hal tersebut. Begitu pula manusia. Manusia saat bayi persis seperti matahari pagi. Anak bayi, pasti banyak yang menyukai, dicubit-cubit, dicium-cium bahkan digendong-gendong. Matahari siang, adalah matahari yang panas, orang-orang mulai jengah dan tak suka. Begitu pula manusia, saat usia remaja ia mulai menampakkan kenakalannya, sehingga orang-orang banyak yang tidak suka melihat tingkah remaja yang tak bisa dijaga. Dan puncaknya, adalah matahari sore atau yang lebih dikenal dengan sebutan sunset.

“Siapa yang tidak suka sunset?” Ricky bertanya. “Adek-adek suka kan?” Anak-anak Juara Aceh mengangguk kompak.

Ia melanjutkan, “matahari sore atau sunset adalah yang paling ditunggu-tunggu manusia sekarang ini, Dek. Ketika sore tiba, orang-orang berbondong-bondong datang ke laut hanya untuk sekedar melihata sunset. Mereka selfi-selfi bersama sunset. Foto-foto bareng, dan lain-lain bersama sunset itu. Diunggah ke sosmed. Dibuat tulisan tentang sunset. Pokoknya banyak deh. Dan mereka lupa, bahwa sunset itu adalah matahari siang tadi yang mereka repetkan. Mereka caci karena kepanasannya. Mereka benar-benar lupa. Begitu pula kita manusia ini, Dek. Untuk menjadi sunset yang disukai banyak orang, maka kita harus berjuang semasa muda. Belajar, berusaha, menjadi yang terbaik. Banggakan orang tua. Banggakan keluarga. Saat masa perjuangan, memang kita persis seperti matahari siang. Dicemooh. Dihina. Dicaci. Tapi sabarlah, dan terus berusaha hingga kita menjadi sunset indah yang didambakan semesta.”

Sebelum meneutup pembinaan sore itu, Ricky memperjelas sekali lagi.

“Hidup kita sejatinya adalah belajar. Dari kecil, remaja, hingga tua kita terus belajar. Dan belajar tidak mesti dari guru, dari buku. Belajar juga bisa dari alam, yaitu belajar dari alam namanya.”

 

(Muharrahman/Aceh)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *