Ozy Sang Insinyur Peternakan

Oleh : Budi Hadiastuti (Guru SD Juara Yogyakarta)

 

 

Badannya kecil tapi untuk anak seumurannya, Ozy termasuk tinggi. Kulitnya yang putih membuatnya menjadi terlihat bersih. Sejak masuk SD Juara Yogyakarta, Ozy sudah menjadi salah satu titik perhatian para guru sebab Ozy istimewa.

Terlahir dari keluarga sederhana, Ozy belajar banyak hal mengenai kehidupan. Ibunya yang pandai membuat aneka kue, memberi Ozy pelajaran agar Ozy dapat survive menjalani kehidupan. Di usianya yang masih belia, Ozy dipercaya ibunya untuk mengelola jualan kue tersebut. Mulai dari proses produksi, penjualan, hingga pengelolaan keuangan.

Dari situ Ozy belajar “Matematika Realistik”, Matematika yang aplikatif dan dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Ozy bukan anak yang suka iseng ke teman-temannya, tidak tertib atau merebut sesuatu yang bukan miliknya.

Sehari-hari di sekolah dia jalani dengan wajar. Main bola dengan teman-temannya, main perang perangan dan kegiatan lain yang dilakukan anak-anak sekolah dasar pada umumnya. Meskipun dalam berkomunikasi Ozy terhitung sedikit berbeda dengan teman-temannya.

Cara bicaranya tidak mengalir, patah-patah. Artikulasinya pun kurang jelas dan butuh konsentrasi penuh untuk bisa paham saat berinteraksi. Inilah yang menjadi tantangan untuk para guru. Eksplorasi pun terus dilakukan, karena kemampuan akademis Ozy belum berkembang secara signifikan. Dimulai dari test IQ sekedar untuk melihat kemampuan logika, linguistik dan visual spasialnya. Hasilnya menunjukkan bahwa kemampuan Ozy berada di rata-rata bawah.

Data awal sudah didapat, maka eksplorasi dilanjutkan dengan observasi MI (Multiple Intellegences) dengan melibatkan orangtua. Setelah beberapa waktu tim kolaborasi guru dan orangtua berhasil menemukan bakat yang Ozy punya yakni, beternak. Menurut pengamatan ibunya, Ozy telaten sekali membantu memelihara ayam milik kakeknya. Mulai menjaga para induk saat musim bertelur dan merawat telur telur itu hingga menetas. Ozy tahu kalau tidak dijaga, tikus-tikus akan memakan telur-telur itu sehingga dia mengupayakan bagaimana cara menjaganya agar tetap aman sampai waktunya menetas nanti.

Dari sini sekolah pun memberi kesempatan pada Ozy untuk beternak ayam sendiri dengan diberi modal yang cukup untuk membeli dua pasang ayam. Beberapa pekan berselang, Ozy sudah mulai melaporkan hasil ternaknya ke sekolah. Mulai dari jumlah telur yang dihasilkan, berapa yang ditetaskan, sampai untuk apa saja uang hasil penjualan telur digunakan. Luar biasa.

Dari situ Ozy belajar Matematika realistik karena dia harus menghitung jumlah dan harga telur. Dia juga belajar Bahasa Indonesia yang sebenarnya karena dia belajar menawarkan telur yang baik saat menjual telurnya ke konsumen termasuk para guru. Dia juga sudah belajar manajemen keuangan karena dia harus mengatur berapa untuk ditabung dan berapa untuk beli pakan serta berapa yang boleh digunakan untuk jajan.

Selamat ya, Mas Ozy. Semoga kelak akan menjadi ahli peternakan yang handal karena dari kecil sudah mengamati kenapa tiba tiba ayamnya mati, apa yang harus dilakukan kalau ayam sakit termasuk ciri-ciri ayam yang sakit. Mas Ozy memang juara!