Aliyudin, Anak Juara Inspiratif Penuh Bakti Pada Orang Tua

Tidak butuh banyak hal besar atau mewah untuk bisa membuat Aliyudin tersenyum bahagia, bisa membersamai ibunya dalam suka duka sudah cukup membahagiakan bagi Aliyudin yang kemudian bisa membuatnya selalu tersenyum bahagia. Aliyudin merupakan anak ke tiga dari tiga bersaudara. Kedua kakaknya sudah menikah dan hidup dengan keluarga di kos masing-masing. Ayah Aliyudin meninggal dunia sejak tahun 2006 dikarenakan sakit.

Sejak tahun 2012 Aliyudin menjadi anak juara binaan Rumah Zakat Surabaya, penerima manfaat beasiswa ceria wilayah binaan Sukomanunggal. Aliyudin memiliki karakter yang responsif dan inisiatif, ketika Aliyudin berada dalam suatu kegiatan dan melihat seseorang butuh bantuan maka dia akan responsif membantu tanpa diminta. 2 tahun yang lalu ibu Aliyudin jatuh sakit dikarenakan serangan stroke, beliau tidak lagi bisa jalan dengan normal. Namun hal itu tidak menjadikan Aliyudin putus semangat untuk melanjutkan sekolah. Dia tumbuh menjadi pribadi yang rajin dan penuh semangat membantu ibunya menjemput rezeki.

Perekonomian ibu dan anak ini ditopang oleh sepetak warung nasi goreng di salah satu gang kecil Sukomanunggal. Setiap hari Aliyudin membantu ibunya belanja keperluan warung nasi goreng-nya ke pasar dengan berjalan kaki sejauh 2 KM. Sejak kelas 5 SD Aliyudin melakukan aktifitas itu, kadang dilakukannya di sore hari sepulang sekolah dan kadang di subuh hari sebelum berangkat sekolah. Dan Aliyudin pun tidak pernah merasa malu melakukan hal tersebut. Terkadang Aliyudin juga membantu menggoreng nasi ketika ada pelanggan yang datang, “…namun belum berani menggoreng setiap ada pelanggan mbak, soalnya kadang keasinan katanya” ujar ibu Aliyudin sambil tertawa.

Sejak ibunya sakit warung nasi goreng mereka semakin sepi, terkadang dalam sehari mereka hanya mendapatkan penghasilan 40.000 rupiah. “Untuk biaya hidup saya dan Aliyudin sehari-hari ya dari warung ini mbak, tidak ada bantuan dari anak pertama dan kedua saya, perekonomian mereka juga pas-pasan dan harus menghidupi keluarga mereka sendiri juga.” Jawab ibu Aliyudin ketika ditanya apakah ada bantuan finansial dari kedua anaknya yang sudah berkeluarga. Warung nasi goreng ibu Aliyudin sangat sederhana sekali dan minim perlengkapan dan penerangan, suasana panas juga terasa dikarenakan tidak adanya kipas angin. Aliyudin dan ibunya pun jarang pulang ke rumah dikarekana ibunya tidak bisa jalan, jika setiap hari pulang pergi ke rumah maka dibutuhkan ongkos untuk naik becak, Aliyudin dan ibunya memilih untuk tidur di sepetak warung nasi goreng-nya untuk lebih menghemat pengeluaran, ibunya tidur di kursi dan Aliyudin tidak di lantai. Sekalipun Aliyudin nampak tidak memiliki prestasi yang istimewa di sekolahnya namun pengabdiaannya kepada sang ibu merupakan prestasi luar biasa yang inshaaAllah akan mengantarkannya pada kesuksesan di masa depan. Aliyudin menyampaikan bahwa kelak dia ingin memiliki restoran yang besar dan sukses.

Kita sering sekali mengeluh tentang beratnya pekerjaan atau sulitnya hidup, padahal diluar sana masih banyak keluarga-keluarga kecil yang kesulitannya melebihi kesulitan kita. Saya belajar banyak sekali dari kehidupan ibu dan anak ini, betapa Allah telah memberikan kita karunia yang sangat banyak dan rezeki yang begitu dimudahkan dimana sebagiannya sebenarnya adalah hak orang-orang yang tidak mampu disekitar kita. Bahkan bisa jadi kemudahan dan keberlimpahan rezeki yang kita rasakan membuat kita lalai dan lupa bahwa di sudut-sudut gang ada banyak anak-anak dari keluarga miskin yang menunggu hak-hak nya diberikan. Semoga dari kisah Aliyudin ini bisa mengingatkan kita untuk lebih bersyukur dengan berbagi sedikit untuk keberkahan yang lebih besar.

 

 

 

Penulis:

(Munawarah/Scholarship Management Surabaya)