Aksi Chef Rina

Oleh: Achmad Ghozali (Guru SD Juara Bandung)

 

Hari itu suasana kelas II SD Juara Bandung sangat ramai. Ada yang bermain perang-perangan, ada yang nangis gara-gara tersenggol, ada yang menggambar, dan ada juga yang tidur.

“Sayang, itu siapa yang tidur? Kok bisa ya lagi rame-rame gini tidur.” Saya bertanya kepada salah satu murid.

“Rina pak!” jawab murid itu. “Biasanya juga tidur. Dari kelas satu pak!” Sambung murid yang lain.

Rina Fajriah, nama lengkapnya. Anak dari almarhum Bapak Suparno dan Ibu Poniyah ini memang terlihat lemas seperti malas untuk beraktivitas. Wajahnya terlihat sangat murung dan pendiam. Saya mencoba mendekati Rina dan menanyakan mengapa dia tidur, tapi Rina hanya diam saja. Rina masih sering tertidur dalam beberapa bulan berikutnya. Biasanya Rina tidur setelah jam istirahat. Ya, untuk sementara saya diamkan saja.

Saya mulai bertanya-tanya perihal Rina kepada guru sebelumnya. Selain itu, saya juga bersilaturahim kepada Ibu Rina. Menurut penuturannya, ia dan suami sempat berkata keras terhadap Rina ketika menyuruh atau melarang, sehingga Rina merasa bersalah dan tidak mau banyak berkata-kata dengan orang dewasa. Berbeda jika dengan teman sebayanya, Rina bisa bersosialisasi dengan baik dan tak ada masalah.

Setelah beranjak semester 2, saya berinisiatif mengajarkan tarian kelas. Tarian ini diikuti oleh seluruh anak kelas II. Yang membuat saya kaget sekaligus senang adalah ketika melihat Rina dengan lincahnya menari dan tertawa serta tampak percaya diri. Komunikasi dengan Learning Support Unit (LSU) atau Bimbingan Konseling dengan orang tua Rina terus saya lakukan. Menurut ibunya, Rina senang memasak dan membantunya memasak. Hingga munculah ide dari guru Bahasa Indonesia untuk menjadikan Rina chef.

Kemunculan chef Rina tentu menjadi hal yang istimewa, karena Rina belum pernah menjadi sosok yang diikuti oleh yang lain. Rina paling jago membuat risoles, maka Rina membimbing teman-temannya membuat risoles. Waktu satu hari pembelajaran pun habis dipakai untuk membuat risoles. Mulai dari membuat kulit sampai menggoreng. Rina sangat antusias sekali dan terlihat gembira. Kegiatan memasak di sekolah pun selesai bertepatan dengan bel pulang.

Sesampainya di rumah Rina bercerita kepada Ibunya, bahwa dia sangat gembira menjadi chef di sekolah. Ia bercita-cita ingin mempunyai restoran yang sangat besar. Orang tua Rina sangat berterima kasih kepada LSU dan guru Bahasa Indonesia yang mempunyai ide menjadikan Rina sebagai chef. Setelah kegiatan masak memasak itu, wajah Rina terlihat lebih cerah ceria penuh percaya diri.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *